Senin, 07 Juli 2014

The ANTLIES : ME, and My Virtual Sister

Udah lama banget gue nggak curhat di sini. Nggak apa-apa berhubung gue juga lagi nganggur nih ahaha....
Semua orang boleh curcol di blog kan? Asal bener aja :D
Gue juga heran kenapa baru kepikiran buat nulis di blog sekarang. Ini kaya ngomong sendiri sebenernya. Nggak bakal ada orang yang baca. Tapi yasudahlah gue cuma mau curcol..

Ini tentang gue dan kedua kakak virtual gue. Dan mereka yang ada di dalam dunia Virtual. Gue nggak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Bahkan sama temen yang sering ketemu pun gue nggak pernah kaya gini. Mereka membuat gue merasa, bahwa gue ada, dan gue pantas.

Berawal dari fanfict yang gue post di facebook. Sekitar tahun 2012, gue posting fanfict yang judulnya Feelings Friends. Saat itu gue menulis dengan hati, dengan segala kebodohan gue. Gue buta sama EYD, dan syarat menulis yang benar. Gue nggak tau apa-apa.
Tapi respon dari mereka langsung buat gue seneng, dan merasa dihargai. Nah gue kenal sama seseorang yang nama Dina (Dyna) dari situ. Dia yang ngeshare cerita gue dan penyemangat gue saat itu.

Setelah selesai posting Feelings Friends. Gue posting novel ancur gue lainnya (Sweetyheart, Feelings Friends 2, This is Real This is Me). Sampai gue memberanikan diri posting karya fantasi pertama gue. Yang judulnya SEVENERS 7Days 7Things 7Element. Dari situ juga gue kenal banyak temen-temen lainnya. Termasuk yang namanya Maya Y Ristanti.

Gue nggak tau apa kita sama-sama awam yaaa... tapi dia bener-bener membuat gue UP. Karena alasan pertama gue dulu sering ngepost cerita di facebook. Dan jadi anak sosmed, itu karena gue nggak percaya sama yang namanya sahabat. Karena trauma disakitin dan dikecewain. Tapi mereka muncul dan membuat warna baru dalam hidup gue. Mereka luar biasa banget. Mungkin emang udah jodoh kali yaaaa.... saat itu kita sama-sama anak terpuruk yang nggak punya temen wkwkwk, saat itu aja loh.

Maksud gue kita kaya anak yang kupeeerrr dari lingkungan, anti kontak sosial. Kita anak yang nongkrong tiap hari di depan komputer sama handphone. Kerjaannya updateee terus.

Gara-gara Seveners tuh gue sama mereka jadi dekeeeeeeet banget. Kehadiran mereka dalam hidup gue, buat gue jadi senyum-senyum sendiri. Mereka selalu bisa buat gue bahagia daripada orang-orang munafik yang ada di kehidupan nyata gue. Gara-gara mereka gue jadi bisa nulisss da berimaginasiiii, mereka yang support gue. Mereka membuat gue merasa hidup. Lain daripada yang dulu hidup tapi kaya nggak hidup.

Kalau kebanyakan orang bilang, sosial media tuh berbahaya
"Awas nanti ditipu!"
"Nanti dihipnotis."
"Nanti diajak ketemuan, terus diapa-apain."

Kayanya serem banget yaaa? Menurut gue tergantung gimana cara kita mengunakannnya kok. Tapi yang gue jalanin sekarang sih dari 2012-2014 mereka nggak ngapa-ngapain gue. Walau kita belom pernah ketemu.

Pasang surut mood gue udah sering mereka rasain. Dari pertama ngepost cerita, sampai terus-terussss, sampai beraniin ngirim ke penerbit, sampai diterima, sampe gagal terbit, sampe gue dihate, sampe gue dihina, sampe gue dijudge, sampe gue galau, sampeeeeeee banyak yang kabur jadi readers gue. Karena gue terlalu sering merendah dan PESIMIS. But di sana, Maya dan Dyna selalu ada. Mereka bertahan sampe kini.



Walau kita sempet lose contact gara-gara salah paham. Tapi itu dulu, gue juga ngerti kok. Gue yang bodoh mau menyerah. Padahal mereka selalu ada buat support gue. Gue yang salah selalu kecewain mereka.
Berkali-kali gue cobaaaaa, berkali-kali gue malu, gue galau, gue nangis, gue nyerah, sampe bangkit lagi, sampe nyerah lagi, bla bla bla.... gue tau mereka juga lelah. Liat gue yang nggak ada perubahannya u,u

Apa perlu gue kaya Thomas Alfa Edison? Yang sampeeee beribu kaliiiii mencobaaaaa?
Yakaaaaliiiii kalo apa gue lakukan ENDINGNYA berhasil. Kalo enggak?
Pikiran itu sempet memutar di kepala gue sih, kemarin. Tapi setelah minta petunjuk Allah gue tiba-tiba mau nulis ini. Entahlah nostalgia aja. Sekarang mah istiqomah aja positif thinking. Serahin sama Allah.

Tapi bagus sih, setiap gue galau dan mau nyerah, selalu ada orang yang gue nggak kenal siapa dia. Muncul tiba-tiba dalam hidup gue. Dan memberikan semangat ahaha....

Loh kok malah beda bahasan? Hhahahah....
Makin engak jelas nih yeeeee.......gue cuma mau share soal Seveners Academy dan The Antlies University. Plus editan my VIRTUAL SISTER. Gue cuma mau bilang sih andaikan gue punya temen seperti kalian di dunia nyata u,u
Nggak ada yang salah sama temen-temen gue di sekolah dan di rumah, dan di mana pun. Mungkin cuma gue aja yang terlalu takut dan trauma dikecewain. PEKA itu NGGAK ENAK LOH. Tapi nggak apa-apa kita jadi bisa memahami orang lain dan mengerti karena sering disakitin wkwkwk ok ok.....


Di sini gue berharap. Kalo suatu saat nanti gue kangen, atau gue telah tiada, atau apapun itulah. Mereka bisa baca ini :D meski nggak penting sih. Gue sayang kalian. Gue harap gue bisa ketemu sama kalian. Gue janji, gue bakal buat kalian bangga :D keluarga, temen, dan Virtual Sister.

LOVATICS SMILER LBS BELIEBERS

ASk

By Maya Y Ristanti















Loveeeee juga buat DWI SEPTIA, Adinda Meylina, UZAI, Vhitaa, Evita Chandra, KA ATIKAH, CAMPOLOVATICS GENG.... dll.... 

ANDDDDDDDDD byeeee :D


Minggu, 06 Juli 2014

Shouldn't be Together by ASk

Haaaai Guys, ini cerpen gue. Nggak yakin bagus apa enggak sih, karena gue bukan penulis. Tapi berusaha buat jadi penulis. Meski mustahil. Agak sedih mau ngepostnya, karena berkali-kali nulis karya gue nggak ada yang bener ehhe...

Tapi ini judulnya Shouldn't Together. Gue tertarik nulis ini dapet inspirasi dari temen-temen gue. Mungkin quotenya khusus buat gue sampein ke mereka dan someone.
Nggak yakin bakal ada yang baca juga. Ini blog sepi banget, daripada nggak diapa-apain. Bodo deh :D Maaf typo, bukan penulis -_-



Shouldn’t be Together

Terpikirkan di dalam benakku akan hal itu. Perpisahan yang akan memisahkan aku dengannya. Haruskah aku mengakhiri ini? Atau mengakuinya? Kutekan tombol turn off di remote dan diarahkan ke tv. Lalu melirik Zara yang bersandar di dadaku. Ia tertidur lelap di sini. Wajah cantiknya membuat aku semakin terpesona kepadanya. Sahabat kecilku yang dulu pernah ada di hatiku dan pernah mengatakan kata sayang.

      Ya… begitulah aku dan Zara, pernah menjalin kasih saat kami masih di bangku SMA. Berawal dari keberanianku mengungkapkan perasaan yang selama ini kupendam. Tapi sayang lamanya status persahabatan kami dapat dihancurkan dengan jalan kasih yang kita miliki, selama 7bulan. Dulu kami pernah saling tak menyapa karena kejadian itu. Mau tau siapa yang memutuskan hubungan itu? Tentu saja Zara. Untuk laki-laki sepertiku tidak mungkin berani memutuskan hubungan itu. Hampir dua semester di kelas 2SMA kami tidak menyapa. Bahkan kami seperti orang asing. Perasaan kecewa dalam hatiku sempat membuatku melakukan hal yang tidak ada gunanya. Ehem… terjerat dalam ketergantungan suatu obat dan suntikan.

     Iya itu hubungan kami dulu. Tapi sejak perpisahan SMA yang membuat kita saling menyapa dan berpelukan. Membuat kami saling menjalin hubungan itu lagi. dan dekat sekali.

        Krek! Suara pintu apartement dibuka. Kulihat Lucy melangkah memasuki ruangan ini sambil membawa beberapa belanjaannya. “Justin! Bukannya membantuku? Kau malah asik-asikan bersamanya?” desahnya seraya meletakan belanjaannya di atas meja. Kalimat kerasnya itu jelas membuat Zara membuka kedua bola matanya secara perlahan. Lalu menyadari bahwa ia sudah tertidur di dadaku. “Bisakah kau bicara lebih lembut lagi?” keluhku pada Lucy.

     Perlahan Zara membangunkan tubuhnya dengan wajah lesu. Ia memandangku dan Lucy, “Jadi aku tertidur ya? Maaf-maaf aku tidak sadar.” Ujarnya seraya mengikat rambut panjangnya itu. Dia memang seksi.
      “Padahal kau besok harus kembali bekerja Justin!” teriak Lucy menghampiri kami dan ikut duduk di samping Zara.
      “Setidaknya kau bisa lebih lembut kepadanya kan?” pintaku dengan lembut. Lucy tinggal bersama di apartement yang kami sewa dengan uang kami. Dia anak kerabat Ayahku. Ya bisa disebut teman dekat.
        “Kalau begitu sekarang aku pulang.” ujar Zara beranjak dari duduknya.
        “Biar kuantar.” Tawaranku padanya seraya beranjak dan meraih jacket yang berada di sofa.
        “Kenapa tidak menginap saja Zara?” tawaran Lucy padanya. 
       Zara tersenyum kepadanya lalu berkata, “Biar aku istirahat di rumah saja. Lagi pula aku tidak mungkin menganggu kalian berdua kan?”
        “Hah… Zara! Aku dan dia tidur di kamar yang berbeda.” desahku padanya. 

        *

      Aku mengendarai mobil menuju rumahnya. Di tengah perjalanan yang gelap ini, aku memang merindukan kebersamaan dengannya. Sekarang aku dan Zara semakin dekat, sama seperti saat itu. “Zara…” sapaku padanya.
      “Apa?” jawabnya sambil memperhatikan pemandangan di luar jendela.
      “Tidak apa-apa. Hanya memanggil.” ujarku padanya seraya tersenyum menoleh kepadanya sebentar.
      “Justin?” sapa Zara padaku.
      “Apa Zara?”
     “Hehe… tidak. Kadang jika kita sedang berdua seperti ini. Aku seperti mengingat saat kau dan aku masih berpacaran. Saat kita masih bersama.” ujarnya dengan senyuman malu. Aku takut dia ingin mengulanginya lagi. Yaitu mengatakan kata sayang. Bukan artinya aku tidak mencintainya. Tapi, ada hal yang tidak mungkin dapat menyatukan kita kembali.
     “Kita masih bersama kan?” aku mengulanginya.
    “Ya memang. Kita memang masih bersama. Ah… ok aku akan melupakan itu. Bahwa itu hanya kenangan. Aku khawatir Lucy akan cemburu mendengar hal ini.” ujarnya.

     Aku menghentikan mobil secara perlahan tepat di depan gerbang rumahnya. “Cemburu? Haha Zara. Aku dan Lucy tidak lebih dari kata sahabat. Kita hanya teman. Sama seperti kau dan aku.” balasku padanya.
    “Kau  yakin?” Zara menekankan. Ia menatapku begitu tajam. Perasaanku bergetar saat menatap tatapan itu. Tapi aku selalu berusaha menyembunyikannya. Iya seorang laki-laki memang harus misterius. 
    “Aku sangat yakin. Oia…bagaimana dengan rencanamu akhir weekend ini? Kita jadi ke pantai bersama?” tanyaku dengan wajah dingin.
   Ia tersenyum kepadaku, “Untuk kau. Aku akan luangkan waktu untukmu Justin.” ujarnya sambil membuka pintu mobil. Ia melintas keluar dari mobil dan aku mengikutinya. Kuhampiri ia dan kami saling berhadapan.       “Oia Justin salam untuk Lucy. Maaf tadi aku masih mengantuk jadi agak malas menyapanya.” ucapnya  dengan wajah natural itu.

    Aku tersenyum kepadanya, “Ya akan kusampaikan. Hanya itu?” aku menekankan.
    Ia mengerutkan dahinya, “Memangnya apalagi?”
    “Jadi ini yang kau sebut dengan rindu kebersamaan di masa lalu kita dulu?” ucapku dengan menggoda.
    Ia tertawa kecil mendengar hal itu. Seolah bahwa semua yang kita bicarakan saat di dalam mobil dan saat ini hanyalah candaan saja. “Oh kenapa kau tidak terus terang saja Justin? Kalau kau juga merindukannya? Ok selamat malam. Mimpi indah.” ujarnya dengan lembut.
  “Aku selalu memimpikanmu cantik.” balasku. Ia hanya tersenyum malu mendengar hal itu. “Zara…” sapaku.
  “Apalagi?” ia dengan senyuman manisnya. Ingin sekali aku mengecup bibirnya atau hanya sekedar memeluknya. Jangankan melakukan hal itu. Mengatakan aku mencintainya saja, aku tak berani. Kutarik senyum simpul padanya, “Tidak apa-apa.” jawabku dengan penyesalan.

   Zara menatapku tajam perlahan ia memelukku dengan hangat. “Terimakasih atas hari ini.” ujarnya. Rupanya ia hanya ingin mengatakan terimakasih? “Iya sama-sama.” balasku.
Kini ia melepaskan pelukan itu. Perasaan canggung di antara kami begitu terasa saat ini. “Ok selamat malam Justin.” ujarnya kepadaku dengan malu.
   “Malam juga Zara.” ujarku. Ia melangkah meninggalkanku menuju pintu gerbang rumahnya. “Zara…” panggilku.
    Ia menoleh, “Besok jangan lupa sarapan.” ujarku tersenyum. Lalu ia menganggukan kepalanya seraya membuka pintu gerbang rumahnya.

**

Weekend yang kami tunggu-tunggu. Aku, Zara, dan Lucy, bersama teman-teman kami yang lainnya. Menyempatkan berlibur di pantai. Menghabiskan waktu bersama mereka membuatku melupakan segalanya. Tawa bahagia di antara kita membuat suasana semakin terasa. 

Senja telah tiba aku dan Zara masih duduk bersama di atas pasir yang halus, bersama desiran ombak kecil di sini. Angin yang halus membuat rambutnya bergoyang, dia semakin terlihat mempesona. Aku menebar tatapan pada matanya dengan dalam. Semakin dalam, kami saling bertatap. Tuhan jika kau izinkan aku untuk mengulangi semuanya. Aku tidak akan pernah mau terjatuh pada lubang itu. Yang membuatku dengannya tidak dapat bersama lagi. Aku terdiam menahan butiran air mata yang siap terjun di wajahku ini. Ia menatapku bingung, “Kau kenapa?” ucapnya dengan lembut.

Zara jika aku sanggup aku akan mengecup bibir itu. Aku ingin hidup bersamamu. Tapi apalah dayaku? Kita tidak akan pernah bersama. Aku tidak begitu egois untuk melukaimu. “Justin?” bisiknya lagi.

Senyumku memandangnya seraya memegang pipinya dengan tangan ini. “Aku mencintaimu.” ucapan itu begitu cepat keluar dari mulutku. Ia tersenyum memandang mata ini lalu memelukku dengan erat. Aku bahkan tak sanggup membalas pelukannya. Tapi tangan ini bergerak dengan gemulai memeluknya dengan perasaan sakit di hatiku. “Aku juga…” balasnya membuat jantungku berdetak kencang.

Aku melepaskan pelukannya dan kami kembali saling bertatap. Wajah kami semakin dekat. Jarak yang tak bisa dijelaskan. Bibir ini serasa ingin membalasnya, tapi aku tak bisa. Aku menoleh ke lain arah. Bisa kurasakan kekecewaan dalam dirinya. Aku memejamkan mataku sejenak. Maafkan aku. Aku beranjak berdiri saat itu. Ia beranjak mengikutiku. “Ada apa?” ujarnya kecewa menatapku.
“Maafkan aku Zara.” ujarku tanpa memandang wajahnya.
“Tapi kenapa? Kau bilang kau mencintaiku? Apa aku salah?” ia menyerangku dengan pertanyaan itu. Yang jelas aku tidak bisa menjawab di hadapannya.
“Maafkan aku.” Aku melangkah pergi meninggalkannya dengan rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar.

**

Sejak saat itu aku dan Zara kembali tidak saling menyapa. Ini memang menyakitkan. Sepertinya ia memang marah karena hal itu. Kini aku kembali menjalani hari-hari seperti sebelumnya. Aku dan Lucy sedang menonton DVD bersama.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Lucy padaku.
“Melakukan apa?”
“Meninggalkan Zara? Bukankah kau masih mencintainya? Lagi pula Zara juga mencintaimu kan? Kenapa kau melakukan itu?” desahnya padaku.

Aku menarik nafas dalam-dalam, “Memangnya Zara cerita apa saja denganmu?”
“Tidak banyak. Dia hanya bilang bahwa dia masih sangat mencintaimu sejak lama. Hanya saja dia menunggu kau untuk memulainya. Tapi saat malam itu? Dia bilang kau mengatakan cinta?” tanya Lucy mendesakku.
“Ehem… haruskah aku menjawab?”
“Hey…kau harus menjawabnya! Jelaskan padaku. Kau mengatakan cinta padanya? Tapi kau menolaknya?  Kau meninggalkannya sendirian!”  Lucy memarahiku dengan keras.
“Lucy. Kau ini sahabatku. Seharusnya kau mengerti kenapa aku melakukan hal itu.” ujarku dengan malas.
“Karena kau ingin balas dendam dengannya? Ya ampun Justin? Itu kan hanya masa lalu di SMA.” keluhnya padaku.

“Bukan itu! Aku ketergantungan obat. Dan berkali-kali melakukan hal itu denganmu. Ini bukan masalah tentang hubungan kita.” penjelasanku padanya. Ia mulai serius mendengarkan hal ini. “Terakhir kita melakukan hal itu 2tahun yang lalu. Kau tau setelah itu aku sering bermain dengan wanita lain di club malam? Aku memiliki aids.”

Ia terdiam mendengar hal itu. Dulu kami pernah berhubungan intim tapi sebelum aku tertular Aids dari anak club malam. Sejak saat itu aku dan dia tidak pernah melakukan hal itu lagi. Frustasi sejak SMA membuatku seperti ini. Mencari kebebasan. “Aku tak ingin membuat Zara merasakan ini.” ucapku dengan pelan.
“Ya…aku baru ingat hal itu. Ya ampun…” ia menunduk dan merenungi hal itu.

***

Pada suatu hari aku bertemu Zara di pertokoan, “Hey…” ia menyapaku lebih dulu. Aku memandangnya ragu. “Apakabar Justin?”
“Baik” jawabku singkat.
“Ok sekarang aku mengerti Justin. Kau hanya ingin membalas semuanya. Iya kan? Aku benar-benar tak menyangka bahwa kau masih memikirkan masa lalu itu?” ucapnya dengan penuh kecewa.
“Kalau iya kenapa? Kau sudah menyakiti hatiku saat itu Zara. Lalu sekarang? Apa?”
“Jadi benar?” ia menumbuk tatapan itu. Aku tak yakin akan perasaan ini.
“Aku membencimu. Dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Karena itu membuat aku semakin muak. Aku membencimu.” desahku membuatnya terdiam menatapku kecewa dengan kilauan dia matanya. “Jangan pernah muncul lagi. Karena aku sudah meniduri perempuan lain. Dan ia sedang hamil.”

PAR! Tamparan keras itu sangat menyiksa batinku. Ia meluncurkan tamparan itu pada wajahku. Rasanya seperti ia sedang mengiris hatiku. Tanganku memegang bagian tepat di mana ia menamparnya. “Kau jahat.” bisiknya padaku.

“Aku menyesal masih mencintaimu Justin! Aku menyesal!” sergahnya menjerit, menangis di hadapanku. Sungguh menyakitkan hatiku. Aku tau dia pasti juga merasakan rasa sakit itu. Tapi apa yang aku lakukan adalah untuk kebahagiaanmu Zara.

**

Beberapa tahun kemudian…

Kadang kita harus melepaskan apa yang seharusnya bisa kita dapatkan. Untuk kebaikan bersama. Itulah yang kulakukan kepada Zara. Pada musim gugur, pernikahan itu terjadi. Zara dan Devian. Tubuhku yang semakin rapuh dan lemas, bibirku yang menjamur dan memucat, tatapan lemasku. Melihat jelas Zara bahagia bersama pria itu. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Lucy memegang bahuku dan mengusapnya. Ia bersampingan dengan tunangannya.

“Kau tau ini yang terbaik Justin.” Ucap Lucy kepadaku.
“Yeah…membuat orang lain bahagia. Itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.” ujarku seraya ingin meninggalkan mereka.
“Kau mau kemana?” tanya Lucy padaku.
“Kebelakang. Sampaikan salamku padanya…”

*

Di bawah pepohonan aku memandang langit. Merasakan waktu yang akan segera memanggilku. Rela melepasnya untuk kebaikannya. “Justin!” suara Lucy terdengar dari belakang tubuhku. Tapi aku tetap terdiam dan tak menoleh ke belakang. Aku ingin mati lebih cepat. Karena melihat ia bahagia adalah impianku selama ini.  Aku merasakan langkah kaki menghampiriku dari belakang. Mungkin itu Lucy. Tapi kini kudengar suara dengus tangisan di belakangku. Lucy menangis?

“Lucy?” tegurku. Aku menoleh ke belakang dan kulihat wanita memakai gaun pernikahan dan jauh di belakangnya terlihat Lucy dan Devian. Ia menangis di hadapanku bahkan tak menatapku. Wajahnya berlinang air mata. “Zara…” sapaku padanya. Jujur saja aku tak sanggup melihat ini.
“Di mana anak dan isterimu saat ini Justin? Apakabarnya mereka?” tanya Zara menatapku dengan air matanya.

Aku menjawabnya dengan gugup, “Me-mereka…” aku memikirkannya. Tapi Zara berteriak, “Di mana Justin! Di mana!”

Aku terdiam tanpa jawaban. Lalu Lucy menyahut dari sana, “Maafkan aku Justin. Aku menceritakan semuanya pada Zara.”

Seketika aku meneteskan air mataku di wajah ini. “Maaf…” bisikku pelan.
“Aku memang masih mencintaimu sampai saat ini Justin. Dan aku menyesal. Aku sangat menyesal.” Zara menangis berbicara padaku.
“Kenapa kau menyesal?”
“Karena aku telah membiarkanmu sendirian dalam kegelapan itu. Aku yang membuatmu terjatuh pada hal itu! Aku salah. Justin maafkan aku.” Ia menangis seraya memelukku dengan erat tanpa peduli keberadaan Devian di sana.
“Kau tidak perlu minta maaf Zara. Jangan menangis.” ujarku padanya.

Ia masih memelukku dan berkata dengan tangisannya, “ Aku menangis bukan karena aku tak dapat hidup bersamamu Justin. Aku terlalu menyayangimu. Kau menyelamatkanku. Kau tidak egois. Terimakasih atas segalanya. Aku mencintaimu.”

Dengan hikmat aku membalas pelukannya, “Aku juga Zara…” 

Cinta memang  sebuah anugerah yang Tuhan berikan kepada manusia. Tapi apa cinta harus memaksa kita untuk memilikinya? Tentu tidak. Cinta, sesungguhnya ialah yang merelakan cintanya untuk kebahagiaannya kelak. Cinta adalah pengorbanan. Saling mencintai tak berarti kita harus bersama. Karena hakikat cinta adalah merelakan dan membuatmu tabah.

      Selesai....

     "Love each other doesn't mean we should be together."


      Don't copas. Ini bukan cerita bagus, siapa juga yang mau copas? Hahahhaha........



Oia gambar copyrigt dari google :D cuma di edit dikit :D bye...



Senin, 30 Juni 2014

7Days 7Things 7Element by ASk

Ini khusus yang nanyain, dipost percobaannya aja dulu. Kalau tanggepannya bagus. Baru aku post di note fb atau dikirim di email, atau di blog lagi? Agak takut sih di blog. Soalnya kan masuk ke google hehe....
Sekarang nggak berharap bisa masuk penerbit lagi. Sekedar ada yang baca dan bisa memperbaikinya kembali juga, saya sudah bersyukur :)

Cerita ini berawal dari fanfict hehe.... tapi semuanya udah aku ubah kok :)

Maaf kalo terlalu banyak deskripsi :( im not perfect :)



PROLOG

Ada sebuah kitab yang bernama Kitab Seven. Kitab ini ada karena adanya seorang penyihir yang menulis mantra-mantra. dan ia gabungkan di dalam sebuah buku. Kitab yang berarti sebuah buku bacaan. Kitab Seven adalah sebuah kitab yang berguna untuk kepentingan individual. Hanya orang-orang tertentu yang bisa membacanya dengan benar. Orang-orang terpilih itulah yang menemukan kitab itu secara tidak sengaja. Bagi orang-orang itu yang menemukannya dan membacanya itulah sebuah jebakan. Jika mereka sudah membaca halaman awal tidak melanjutkan maka tamat saja riwayatnya. Bagi pemilik kitab seven wajib membaca sampai berkali-kali seumur hidup. Jika tidak bagian tubuh pemilik akan terluka seperti luka bakar yang terus menerus bertambah. Seiring pembicaraan Seven dibicarakan di kalangan remaja. Banyak remaja yang nekad mengambil kitab orang lain, hanya untuk mengetahui apakah Kitab Seven itu?

Berbagai hal dilakukan banyak orang untuk mendapatkan Seveners. Namun akibat nafsu itu akan mengakibatkan ketidaksempurnaan dalam membaca. Lagi-lagi itu adalah jebakan dan kutukan.
Namun begitu hanya ada dua orang di dunia ini yang bisa menguasai semua elemen yang ada. Setiap pemegang Kitab Seven akan mendapatkan elemen. Seperti air, udara, listrik, bumi, api.

Mengapa dinamakan Seveners? Karena di dalamnya serba tujuh, ada 7bab, 7mantra khusus, 7hal,7pemegang Kitab, 7yang bisa mengubah dunia menjadi normal,  dan 7hari untuk mendapatkan elemen.

Akibat tidak membaca atau menggunakan elemen dalam waktu tujuh jam maka kulit sang Seveners akan terbakar atau membusuk sedikit demi sedikit. Kebanyakan para pemengang hanya bisa menyesalinya.
Hanya ada satu cara untuk menyatukan semua elemen dan menghancurkan Kitab Seveners yaitu dengan mengumpulkan 7orang pengendali pemegang Kitab Seven.
2orang pengendali All elemen,1 orang setiap elemen.

Hasil edit nih, yang kemarin gue jadiin draft :) semoga ini yang dimaksud prolog -_- meski ini tidak membuat penasaran. Tapi jujur ini tulisan yang pertama.
Ini buktinya 21 Maret 2012

 https://www.facebook.com/notes/alfi-suraya-nisha/jd-7days-7things-seveners-/10150751167017095

Demi Lovato

Demi Lovato
ini gambar editan w n grup w di facebook

Twitter Widget

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini